I

“Kalau ada sesuatu yang membuat hidup ini berarti, itulah renungan tentang keindahan,” — Plato.

Lazimnya sebuah kisah, kendati tanpa narasi, bahkan tanpa kata, ornamen berupa kriya, gambar, dan foto-foto tua di dinding retak itu cukup terbuka untuk “dibaca”. Saya baru menyadarinya. Selama ini, kok bisa tak terasa gerak perubahannya, jika tadi tak menatapnya dengan lekat hati, tak akan terasa.

Ya, dinding rumah. Mungkin juga dinding rumah Anda, atau siapa saja yang punya dinding pada griyanya dengan segala ornamental yang ada, tentu bisa merasakannya.

Dinding rumah, ternyata punya kisahnya sendiri. Tanpa sadar, Ia tak ubahnya kitab sejarah yang terus kita tulis, kita isi, bergerak, hidup dalam tata laku estetis yang kemudian bisa menandai dan memaknai zaman.

Tentu, pantaslah ia untuk dibaca, bukan dengan kacamata arkeologi tentunya. Tapi dengan refleksi filosofis atas pengetahuan indrawi, khususnya dari sudut keindahan. Karena betapa kayanya sudut pandang estetika itu, hingga ia dapat dibaca sebagai tanda, sandi, isyarat Sang Ilahi.

***

foto:pixabay

Saya jadi membayangkan mundur ke masa entah — tempat tinggal para Momole — moyang kita. Mereka pasti juga punya hiasan di dindingnya. Saya membayangkan memorabilia mereka di dinding sederhana dari rumbia, gaba, batang pohon, atau bahkan dinding gua karya alam — apapun itu — pasti dihias.

Selampau apapun mereka hidup, kuyakini, mereka adalah orang-orang yang cinta keindahan. Lihat saja dinding rumah masing-masing kita kini. Agak “nyeni”, kan? Dari mana kalau bukan genetika artistik yang diwariskan moyang pada kita.

Entah dahulu hiasan dindingnya mungkin dari kulit bia (kerang), kulit hewan, kulit kayu, tifa, parang, tombak, salawako, saloi, tolu, susiru, bahkan dodeso, bisa berubah fungsi jadi hiasan. Apa?! Tengkorak manusia?! Mungkin saja. Itu juga gen kita. Lupakan!

Lalu zaman kian gegas kemari. Ilmu, aksara, dan benda peradaban lain juga mendarat di sini. Catatan pohon silsilah marga dan klan, juga piring Dinasti Ming, turut menjadi hiasan dinding.

Kian moderen, berkembang aneka pilihan material rumah. Dari gaba ke papan, hingga beton sebagai dinding. Hiasan dinding, tentu turut bertransformasi.

Saya, atau sebagian kita — semasa kanak — pasti pernah menyaksikan hal ini. Entah di rumah sendiri, atau di rumah tetangga.

Gambar Kakbah pada kanfas atau sulaman permadani; lafal Allah dan Muhammad dari kulit bia; Yesus bersama domba terlukiskan pada kanfas atau sulaman benang wol; kayu salib; juga lukisan beraliran ‘Indonesia Mooi’ dengan sawah dan gunung-gemunung, sungai, kerbau, petani, kesemuanya berada dalam satu bingkai. Burung, tak ketinggalan turut di dalamnya.

***

foto:pixabay

Ketika zaman berganti, hiasan dinding pun berubah sesuai watak zaman. Setiap generasi punya seleranya sendiri. Saat fotografi mulai merambah Ternate di akhir 60-an, hiasan diding pun bertambah dengan foto berbingkai aneka rupa.

Kulit bia, parang dan salawako, turun tahta diganti foto hitam-putih Tete se Nene, Yaya se Papa, Nongoru se Io, Ra se Faya merambah dinding rumah-rumah kita.

Pada periode 70-an, selain foto keluarga hasil cetakan Pagar Merah dan Garuda Foto pada album dan dinding rumah, biasanya ditambah foto mahkota berambut dan keraton Kesultanan Ternate, Jembatan Residen, juga Danau Laguna. Dan, yang paling fenomenal adalah foto panoramik hitam-putih Pulau Ternate, karya Almarhum Adam Hamzah. Itu dahsyat, Nyong!Hampir sebagian besar rumah di Ternate kala itu memilikinya. Semoga Allah merahmati Beliau.

Belum lagi di kamar para senior era 80-an hingga 90-an, poster Deep Purple, The Police, Duran-Duran, Iron Maiden, Madona, hingga Iwan Fals juga turut menghiasi. Bagi wanita zaman itu, entahlah. Mungkin poster Rano Karno, Tommy J Pisa, Tommy Page juga New Kids On The Block. Nah, yang masa kini, mungkin memilih Justin Drew Bieber, Taylor Swift, Lee Jong Suk, Seolhyun. Terserah.

***

Memorabilia adalah sesuatu yang digunakan untuk mengenang, menghadirkan memori. Manusia tidak dapat hidup terlepas dari memorinya. Seluruh aspek kehidupan kita sangat erat dengan memori yang mengikuti. Memori mempengaruhi berbagai macam pemahaman, nilai, ilmu, dan ribuan aspek lain.

Tentang seberapa jauh kenangan dapat mempengaruhi seseorang. Tentang identitas diri yang mau-tidak-mau terbentuk seiring bertambahnya kenangan kita akan hidup. Karena benda kriya, poster, lukisan, dan foto-foto tersebut, bisa membuat kita tersenyum, tertawa, bahkan juga menangis.

Dinding rumah memang punya sejarah estetika penghuninya dari masa ke masa, ia seperti punya kisah sendiri untuk diceritakan. Tubuhnya merelakan paku tautkan kenangan dan kebanggaan. Menjadi pengingat, bahwa setiap pribadi selalu butuh tautan.

Ia menyimpan tanda dalam rentang hidup kita. Waktu yang menunjukkan ketakabadian yang mengajari saya atau juga kita, betapa berharganya kesementaraan. Karena segala yang kita jumpai di dalam dunia ini tunduk kepada waktu. Dan tidak ada sesuatu yang tetap sama dan tidak ada yang pada suatu ketika tidak akan musnah.

Dalam kontemplasi, saya bertabik. Dinding rumah dan segala estetika yang kita sematkan padanya, tak hanya menyimpan jejak sejarah penghuni, tapi juga menjadi suaka bagi kenangan kepada orang-orang yang kita cintai meski mereka telah berjarak sesayup kenangan.

Dan kepada dinding-dinding rumah dengan estetika yang dicercahkan umat manusia padanya, yang tadinya hanya kurengkuh sebatas dunia indrawi, kini ia meresap masuk ke ‘Jagad Dalam’, meski hanya pantulan lemah dari kilau keindahan yang abadi. Keindahan indrawi memikat, tetapi dapat dan harus juga tampil sebagai tak mencukupi, sebagai cerminan dari keindahan yang lebih tinggi yang menjanjikan pesona yang lebih akbar.

Hanya dengan memandang kriya, gambar, foto yang tertaut di dinding, membuat saya merenung dan merindu pada orang-orang yang menyangi saya di bumi ini dan mereka yang telah kembali pada Nya, mungkin ini hanyalah cerminan kerinduan anak manusia pada memori rahim yang asali yang baka.

Dengan segala kebodohan mata, pikir, dan kalbu yang lama terhijab, cukup dengan memandang ke dinding retak yang berhias itu kutertaut padaMu. Maka izinkanlah aku mengenalMu Duhai Yang Maha Indah. Ilah.

Dia (Allah) menjadikan malam dan siang silih berganti untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur.

QS Al-Furqan (25): 62.

Tabea,