Tepuk tangan bergemuruh. Publik yang hadir di sebuah ruangan di Universitas Harvard itu takjub dengan bukti yang dibeberkan sang peneliti.

“Wow, benar-benar terdengar sama. Blues ternyata benar berakar dari sana,”ucap pengunjung yang hadir, usai sang peniliti memperdengarkan dua rekaman audio yang mengungkap Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat.

Si penyingkap ini adalah Sylviane Diouf. Ia seorang penulis, ilmuwan, sekaligus peneliti dari Schomburg Center for Research in Black Culture di New York. Ia menyatakan musik Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat. Pengaruh seni musik Islam ini lah yang dibawa oleh komunitas kulit hitam ke Negeri Paman Sam di masa itu.

Dua rekaman audio yang diperdengarkan di Universitas Harvard itu yang pertama adalah lantunan azan. Sebagai pembanding, dia kemudian memutar lagu Levee Camp Holler. Ia meyakinkan keterkaitan musik blues dengan tradisi musik kaum Muslim.

Publik yang hadir mencermati lagu Blues lawas itu yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun yang lalu. Levee Camp Holler bukanlah lagu Blues yang terbilang biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunitas kulit hitam Muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil.

Setelah mendengarkan rekaman itu, mereka pun menyadari bahwa lagu Levee Camp Holler terdengar seperti lantunan azan. Menurut Diouf, itu merupakan bukti pertautan antara keduanya.

Saya ikut mendengarkan Levee Camp Holler. Bukan di Universitas Harvard saat Diouf memperdengarkan dan memaparkannya panjang lebar tentang hal tersebut, tapi hanya lewat YouTube. Dan rasa-rasanya sih, iya.

Jenis musik yang saya sukai ini memang tidak jelas kapan ia hinggap dan bersemayam di jiwa saya. Ia lahir begitu saja, mungkin ini jawabannya: azan. Karena saat lahir, kuping saya ini sudah diazani.

Mari kita dengarkan saja irama Levee Camp Holler ini dan bandingkan dengan suara azan:

Saya memang menyukai musik Blues dan itu akan berlipat-lipat keasikannya jika ada distorsi keras dari amplifier dengan gitar listrik yang kasar dari karakter Fender Stratocaster yang meraung. Itu mungkin sebabnya saya lebih punya ketertarikan yang kuat dalam mendengar Blues dengan sentuhan Rock and Roll yang kental. Ini biasa disebut dengan istilah Blues Rock.

Saya bahkan pernah membuat satu lagu dengan aliran Blues Rock saat putus cinta. Aiih.. cemen nian bray. Tak mengapa lah ya? Toh Blues itu lahir dari kepiluan para budak yang menyuarakan pemberontakan jiwanya yang terluka akan penindasan. Mirip-mirip lah luka itu. Meski kadar luka saya masih masuk kategori lecet.

Mari kuceritakan saat lagu itu tercipta. Bukan cerita soal putus cintanya, tapi akibat dari putus cinta itu, Blues pun tercipta.

Saat itu awal November 1997 di bawah payung merah besar bertuliskan Bir Bintang, di sudut jejeran kamar kost yang membentuk leter U dengan rerimbun pohon bambu kuning yang harusnya menambah kenyamanan, jadi garing. Saya duduk di situ. Malam masih muda. Sendiri. Putus cinta.

Tempat Kost itu sering disebut Blue Diamond, meski bukan itu namanya, beralamat di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tetangga kamar saya adalah Gideon Hallatu, Si Ambon Kart kelahiran Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat. Ia telah almarhum hampir empat tahun lalu saat ini dituliskan. Semoga Tuhan menerima amal baiknya. Danke banya Ghidi atas segalanya. Beta Rindu.

Gideon atau biasa kusapa Ghidi adalah seorang backing vocal arranger terbaik di Indonesia, ini klaim saya. Ia saat itu sedang sibuk ikut menggarap album Chrisye “Kala Cinta Menggoda”, jika tak salah. Pulang dari latihan di studio Erwin Gutawa di bilangan Antasari, Jakarta Selatan, Hallatu butuh teman bercanda. Bertelanjang dada keluar dari kamarnya dengan menenteng gitar, ia menghampiri saya sambil genjrang-genjreng dengan senyumnya yang manise khas Nyong Ambon.

Ia tahu, saya suka musik Blues dari koleksi kaset yang ada di kamar saya, namun ia tak tahu saya sedang putus cinta. Gitar lalu disodorkan pada saya, “Ale main, Bung! Summertime,” ucapnya singkat. Ia merujuk pada lagu yang dipopulerkan Janis Joplin. Ku ambil gitarnya. Konserlah kami. Ia meniru suara khas Joplin yang membuat konser kita diselingi tawa.

Saat itu, malam minggu. Penghuni lain dengan pacarnya masing-masing berseliweran melintas dan hanya tertawa melihat ulah kita. Sweet Home Alabama milik Lynyrd Skynyrd kugubah menjadi Sweet Home Gamalama. Gideon berjingkrak sambil bernyanyi. Kami tertawa geli dengan kegilaan itu.

Setelah empat atau lima lagu, ia pamit untuk mandi — hendak pergi lagi — mengamen entah di mana. Tak kutanya. Gitarnya yang ditinggal, terus kumainkan layaknya seniman yang mendapatkan ilham, terciptalah musik sekalian lirik di kepala ini. Buru-buru mengambil kertas, pena, dan menuliskannya. Kord dan lirik pun langsung sekali jadi. Beiih… Putus cinta itu ternyata memang luar biasa, kawan.

Lagu yang masih mentah itu kemudian dipoles Fransiscus Eko, sahabat saya yang paham soal musik. Ia juga kemudian yang mengisi vokalnya saat membuat demo rekaman lagu ini di kemudian hari.

Karya yang tercipta dengan spontan itu, tak kusangka kemudian dimainkan Blues Road, sebuah band beraliran Blues Rock, di panggung-panggung Cafe Jakarta. Sang gitaris band ini adalah Mas Didit, orang yang pernah sepanggung dengan BB King. Ia adalah ayah dari Adipati Dolken, artis yang kini sedang hits.

Bicara soal Mas Didit ini juga agak mengejutkan. Mas Didit ini adalah anak seorang Tentara. Ayahnya pernah bertugas di Tidore, Maluku Utara, dan lahirlah ia di situ tahun 50-an, saya tak tahu tahun tepatnya. Waktu kelahirannya di Tidore, ia kemudian mengaku diberi marga Fabanyo oleh tetua adat di sana saat itu. Jadi Adipati Dolken itu harusnya bermarga Fabanyo…Hmmm.

Sudah. Kembali soal lagu tadi. Lagu yang kuberi judul “Cari Gantinya”, akibat melow itu kemudian dibuat demo rekaman nya oleh Blues Road. Dalam demo ini, bukan Mas Didit yang mengisi gitarnya, namun Christopher Bollemeyer atau lebih dikenal dengan Choky Netral, gitaris Band Netral kini.

Bergaul dengan orang-orang seniman musik di atas itu, membuat saya yang suka menulis puisi pada halaman belakang buku apa saja dan pencinta esai 5 paragraf yang isinya hanya protes melulu, jadi pindah mazhab membuat lirik lagu. Apakah karena mereka atau akibat dari putus cinta? Entah.

Blues memang punya girohnya sendiri seperti juga azan menurut Diouf tadi. Ia menenangkan dalam gulana dan juga menggerakan menuju ketenangan batin. Mungkin itu sebabnya, Blues dikumandangkan dalam kamp penampungan budak sebagai pelipur bagi hati yang lara.

Nah! Kini, keraskanlah volumenya BebNge-Blues kita. Ini lagu saya. Lagu yang tercipta karena putus cinta. Aiiihhh… aiihh… swiit…swiiit…