Dari 22 orang guru yang mengajar, sembilan orang diantaranya adalah muslim.

Nilai pruralisme diterjemahkan melalui tiga prinsip penting dalam mengelola sekolah yakni, keterbukaan menerima, bekerja dengan hati dan penegakan disiplin.

Gelap baru sepenggal terangkat dari tanah. Dingin masih melingkar. Jam besar di depan Gereja Batu, rumah ibadah Khatolik di pusat Kota Ternate, pas di titik 06.30 WIT. Ketika seratusan siswa SD Santa Theresia sudah berbaris rapi di pelataran. Tanpa suara mereka memulai aktifitas belajar dengan serangkaian rutinitas berkualitas. Berdoa bersama, menghormat bendera Merah Putih, menyanyikan lagu pujian untuk guru, dan ditutup dengan slogan khas harmoni, “selalu semangat Pagi!”. Apakah ada bedanya dengan sekolah lain?

Sekolah ini sejatinya memiliki riwayat yang panjang. Dibuka kembali tahun 2006, gedung sekolah yang bersatu dengan kompleks Gereja Santo Willibrordus yang merupakan salah satu Gereja tertua di Indonesia, dibangun tahun 1523 oleh seorang kapten Portugis Antonio Galvao, dikelola secara mandiri oleh yayasan Khatolik. Meneruskan sejarah panjang SD Radja Kristus (SD RK_nama sebelumnya) yang produktif menghasilkan lulusan terbaik mulai dekade 70an, sekolah ini sempat ditutup saat konflik komunal meluluhlantakkan Ternate pada akhir tahun 1999 lalu.

Kala sebagian besar penghuninya mengungsi, bangunan sekolah ini sempat dipakai oleh Universitas Muhammadiyah. Belajar dari pengalaman pahit akibat konflik dan meneruskan pesan suci agama tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai, sejak sekolah ini dibuka kembali, misi sekolah diarahkan pada upaya mendukung pruralisme dan menumbuhkan kesadaran untuk hidup bersama dalam keberagamaan.

Misi ini tertulis besar di dinding sekolah dan dipraktekkan dalam keseharian. Menurut kepala sekolah Santa Theresia, Pastor Titus Rahail, meski dikelola yayasan Khatolik, sejak memasuki gerbang sekolah setiap siswa maupun guru diharuskan menanggalkan atribut dan kepentingan agama. Rahail berkeinginan sekolahnya tumbuh dan berkembang sama dengan dinamika Ternate yang prural dan terbuka. Nilai pruralisme diterjemahkan melalui tiga prinsip penting dalam mengelola sekolah yakni, keterbukaan menerima, bekerja dengan hati dan penegakan disiplin.

Setiap pagi, sang Pastor selalu berdiri di depan gerbang sekolah menyambut kedatangan siswa dan berkomunikasi dengan orang tua yang mengantar anaknya. Tak ada kompromi bagi mereka yang terlambat terutama para guru karena begitu jam apel dimulai, gerbang akan tertutup rapat. Jika ada siswa yang terlambat, Pastor akan melakukan koordinasi dengan guru kesiswaan untuk melakukan pembinaan. Komunikasi itu bahkan sampai ke rumah jika kebiasaan terlambat telah memasuki hari ketiga. Kerelaan hati sang Pastor memberi contoh disiplin membuat suasana belajar di sekolah ini sangat nyaman dan inspiratif. Jika bertugas di luar daerah, Pastor bahkan masih bisa mengontrol suasana kelas, mengecek siswa dan guru yang hadir dan menjamin pelajaran tetap berlangsung melalui kamera CCTV di setiap ruang kelas yang terkoneksi dengan layanan smartphone.

Karena prinsip keterbukaan menerima dan bekerja dengan hati, tak aneh jika dari 22 orang guru yang mengajar, sembilan orang diantaranya adalah muslim yang mengabdi sebagai guru sejati. Bahkan tujuh guru perempuan setiap hari datang beraktifitas dengan menggunakan pakaian muslimah dan berjilbab. Siti Khadijah, Wakasek Kurikulum mengaku tak ada aturan khusus yang dikeluarkan yayasan terkait cara berpakaian. Bahkan dirinya dan beberapa guru yang berhijab sangat dihargai di lingkungan sekolah. Mereka juga dipercaya menduduki jabatan strategis di sekolah mulai dari Wakasek kurikulum, Wakasek sarana dan prasarana, Humas hingga bendahara BOS.

Lalu bagaimana dengan pelajaran agama? Guru Siti mengakui, pelajaran agama Khatolik jadi satu satunya yang diajarkan di sekolah. Bagi siswa Kristen, mata ajar ini dipelajari sebagai pengetahuan sekaligus penguatan iman untuk melahirkan siswa yang taat dan penuh cinta kasih. Sedangkan bagi puluhan siswa muslim, penguasaannya hanya dipersepsikan sebatas pengetahuan untuk menumbuhkembangkan sikap toleransi.

Untuk memperdalam pengetahuan agama Islam yang berujung pada peningkatan iman dan taqwa siswa, sekolah bekerja sama dengan salah satu Tempat Pendidikan Quran. Di tempat mengaji ini, siswa diwajibkan belajar Al Quran dan mendapat penilaian khusus. Selalu ada tugas yang diberikan dari Guru di TPQ dan absensinyapun dikontrol secara rutin oleh sekolah.

Semangat sekolah yang mengedepankan pruralisme ini diapresiasi secara khusus oleh Walikota Ternate, Burhan Abdurahman. Baginya, jika nilai pruralisme berbasis budaya diterapkan secara dini maka akan melahirkan generasi muda Ternate yang saling menghargai dalam sikap dan perbuatan. Impacnya adalah, Ternate akan tumbuh sebagai kota yang majemuk dan nyaman untuk didiami. Kondisi ini secara makroekonomi akan mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan investasi yang berujung pada membaiknya kesejahteraan.

Walikota Burhan bahkan terkesan dengan kemampuan berkesenian para siswa yang berjalan imbang dengan pencapaian prestasi akademiknya. Selain konsisten melahirkan lulusan dengan prestasi membanggakan, sekolah Santa Theresia juga menelorkan siswa dengan kemampuan bermain piano dan alat musik lain yang hebat. Sejak kelas 3, siswa diajarkan kesenian dengan pilihan sesuai potensi. Tak aneh jika, denting piano Beethoven ataupun Bach sering terdengar dari sudut kelas.

Untuk mendorong konsistensi dan keberlanjutan siswa dalam bersikap dan memilihara nilai pruralisme, sekolah ini sejak dua tahun lalu membuka diri untuk bekerja sama dengan Wahana Visi Indonesia, NGO mitra World Vision yang berkontribusi mengembangkan model pendidkan kontekstual berbasis nilai lokal yang dinamakan pendidikan Harmoni di Ternate. Ada tiga nilai utama yang diimplementasikan melalui pendidikan harmoni yang terfokus pada pentingnya interaksi siswa dengan dirinya sendiri maupun dengan Tuhan (harmoni diri), interaksi dengan teman, guru, orang tua dan masyarakat (harmoni sesama) dan pola interaksi dengan lingkungan (harmoni alam).

Pendidikan harmoni di mata Golda Simatupang, CO Wahana Visi Indonesia ADP Ternate, sejatinya hadir sebagai sebuah sintesa antara pendidikan karakter dengan pendidikan formal berbasis budaya. Sintesis ini diharapkan menghadirkan model pendidikan karakter yang mampu mengeksplorasi nilai nilai budaya lokal dengan memanfaatkan artefak kebudayaan dalam bentuk permainan, dongeng serta bentuk lainnya. Sebagai sebuah model pengajaran, pendidikan harmoni mencoba untuk menemukan sinergitas antara keharusan membentuk karakter anak yang bertaqwa kepada Tuhan, cerdas, santun, cinta tanah air, menghargai perbedaan dan cinta lingkungan dengan nilai nilai budaya lokal dalam konteks adat se atorang dan kurikulum pendidikan di level nasional.

Meski baru dua tahun berproses, harus diakui suasana sekolah dan dinamika di kelas baik dalam bentuk interaksi antara sesama siswa maupun interaksi antara guru dengan siswa mengalami progres yang menjanjikan. Setidaknya ini terekam dari testimoni beberapa siswa. Anggita, siswa kelas 6 asal Jawa Tengah bercerita, sebelum ada pendidikan harmoni, kelasnya selalu kacau, riuh setiap tak ada guru dan konsentrasi belajar tak ada. Tetapi sejak belajar harmoni, suasana kelas makin asyik dan nyaman untuk belajar. Gerard, siswa pindahan dari Palembang mengaku kaget karena sekolah barunya jauh lebih tertib dan tenang. Dia bahkan diterima dengan penuh persahabatan dan langsung akrab dengan teman baru karena tak ada siswa yang jail atau tertutup.

Lain lagi pengalaman Lovely, siswi asal Manado. Dia mengaku guru sekolahnya tak lagi memukul siswa atau memberi hukuman lainnya yang tidak mendidik. Setiap ada kesalahan yang dilakukan, nama mereka akan tercantum dalam baris merah di papan harmoni yang tersedia di setiap kelas atau diberi simbol “terhukum” pada baju seragam. Biar tak malu berkepanjangan, siswa akan berusaha berbuat kebaikan agar namanya “direhabilitasi” atau berpindah ke baris hijau.

Dari aspek edukatif, model kegiatan belajar juga sama dengan kurikulum pendidikan yang baru dimana ruang kelas tak monoton berisi deretan meja kursi yang menghadap ke depan tetapi suasana dan pengaturan kelas disesuaikan dengan kesepakatan. Agar memudahkan interaksi selama proses belajar, tema yang dipilih ditentukan oleh siswa dan sepanjang kelas berlangsung, guru dilarang duduk.

Beberapa guru bahkan telah membuat model kurikulum tematik integratif sebagaimana content kurikulum 2013 dengan memodifikasi tema bernuansa lokal seperti permainan cenge cenge untuk pelajaran matematika, IPA dan bahasa Indonesia. Gohu, makanan tradisional dari ikan sejenis Sasimi untuk pelajaran IPA, IPS, sejarah dan matematika ataupun Danau Tolire untuk pelajaran IPA dan sejarah.

Pastor Rahail mengakui, semua aturan untuk belajar di kelas, penegakan disiplin hingga model tematik integratif yang dipakai dalam pembelajaran ditentukan dalam musyawarah kelas yang demokratis dan terbuka untuk mencapai kesepakatan. Biasanya dilakukan di awal masuk sekolah dan berlaku sepanjang satu semester.

Teng! Teng teengggg!!!. Bel berbunyi saat jam 12 pas. Tertib keluar dari kelas, seratusan siswa ini kemudian berbaris tanpa suara. Sebelum pulang mereka mendengar nasehat kebaikan dari Pastor, berdoa bersama mensyukuri karunia Tuhan sepanjang hari. Menghormat bendera Merah Putih lalu perlahan berpamitan dengan para guru yang berbaris rapi sambil salaman dan mencium tangan mereka. Indah!! Dan Ternatepun tersenyum.

Asghar Saleh kini dikenal sebagai politisi, ia juga penulis di beberapa penerbitan pers lokal. Kerap memposisikan dirinya sebagai kolumnis, karena produktif memaparkan analisanya tentang sepakbola.