Saya selalu mengikuti novel Remy Sylado, pria kelahiran Makassar ini dengan kisahnya yang selalu bagus. Kali ini masih dalam seri yang sama, novel Perempuan Bernama Arjuna 5: Minasanologi dalam Fiksi. Sarat dengan berbagai wawasan dan informasi sejarah dan budaya. “Gurih” nian bagai makanan “bergizi” bagi batin dan jiwa saya, paling tidak begitu.

Di dalam bagian novel ini, saya mendapati suatu pembahasan yang teramat dekat dengan saya. Ia mengulas tentang kata bakucuki, bakunae dan bakuruju yang sudah lazim di kuping saya. Hal ini membuat saya jadi berpikir tentang egaliternya bahasa saya sendiri, Melayu-Ternate, dalam hal tindakan reproduksi yang oleh Remy diangkat dari bahasa Manado.

Benar juga soal semua bahasa Nusantara dalam menyebut tindakan reproduksi, nyata menundukan perempuan sebagai objek dan lakilaki sebagai subjek. Bukti itu terlihat dari kata ‘menyetubuhi’ dan ‘disetubuhi’ atau ‘meniduri’ dan ‘ditiduri’.

Jelas, di situ lakilaki subjek aktif dan perempuan objek pasif. Dalam bahasa Melayu-Ternate, perempuan dan lakilaki sama-sama subjek. Bukti ini terlihat pada ungkapan kata-kata bakucuki, bakunae dan bakuruju tadi.

Tindakan sexual dalam bahasa Jawa di Semarang atau Sunda di Bandung, memang dipakai kata-kata yang menunjukkan dengan nyata gambaran-gambaran kesemenaan dan kesombongan lakilaki.

Remy sebagai orang yang dibesarkan di sana, memberi contohnya: dalam bahasa Semarang, kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki kurangajar terhadap perempuan yang diposisikan sebagai objek yang manut adalah, “tak anthoki sisan lo kowe” atau pada bahasa Bandung yang diucapkan juga oleh lakilaki kurangajar terhadap perempuan yang sama dijadikan sebagi objek yang harus nrimo adalah, “diewe siah ku aing.” Jelas, di semua contoh itu, terlihat betapa lakilaki adalah ular, singa, buaya terhadap perempuan yang dianggap domba.

Jadi dalam bahasa bakucuki, bakunae, bakuruju, itu benar tidak ada diskriminasi, eksploitasi, pelecehan lakilaki terhadap perempuan. Bahwa lakilaki dan perempuan yang otak dan hatinya sehat, adalah harus hidup dengan cinta, dan cinta yang mengandung kasad rohani, mesti diselenggarakan dengan cinta yang berkasad badani. Aih…artinya, itu sebagai suatu tindakan aktif antara subjek dengan subjek.

Adakah apologianya menyangkut acuan yang dikatakan berkerangka praksis ‘sama-sama subjek’ tersebut? Bagaimana acuan verbal kata-kata itu yang bisa memuaskan keilmuan kata? Itu pertanyaan Arjuna dalam novel tersebut, juga saya tentunya, atau siapapun yang membacanya.

Untuk menjawab itu, bahasa Melayu-Ternate, Melayu-Manado, Melayu-Ambon, Melayu-Papua dan sebagian besar bahasa Melayu di Timur Indonesia, terlebih dahulu harus diketahui bahwa sebelum terlembaga — katakanlah begitu — apa yang disebut bahasa Melayu-Manado, Melayu Ambon, Melayu-Papua telah lebih dahulu ada bahasa Melayu-Ternate yang diajarkan di sekolah pertama di Ternate atau bahkan di Nusantara ini(?).

Mungkin Remy Sylado dalam novel nya kali ini, lalai dalam menentukan awal lahirnya sekolah modern ala Eropa yang ia sebut bermula dari Ambon. Sekolah pertama yang dimaksud Remy adalah sekolah yang di mulai di zaman Antonio Galvao, 1536–1540 dan kesemuanya itu, terjadi di Ternate. Banyak catatan tentang ini.

Koentjaraningrat misalnya, dalam bukunya ‘Kebudayaan Jawa’ (1984) ia menulis: “Menurut catatan orang Portugis, sistem pendidikan sekolah Eropa untuk orang Indonesia pribumi sudah ada sejak berdirinya sekolah Katolik Portugis untuk anak-anak kepala desa pribumi di Ternate dalam tahun 1536.”

Faktum ini juga disebut dalam buku Historia das Moluccas karangan Antonio Galvao sendiri, komendan tahun 1536–1540 di Benteng Nostra Senora del Rosario atau Benteng Kastela dalam penyebutan Ternate dan kemudian buku tersebut diberi catatan kritis oleh Hubert Jacobs SJ.

Saya tidak sedang membahas sejarah sekolah yang mengunakan bahasa melayu sebagai bahasa pengantar dan aksara latin pertama di Indonesia adalah di Ternate (mungkin di lain waktu). Namun saya ingin mengembalikan asal kisah yang ditulis Alif Danya Munsi alias Yapi Tambayong alias Remy Sylado ini pada turunan kebahasaan Melayu-Ternate. Bahasa Melayu-Ternate adalah ‘Ibu’ dari bahasa Melayu-Manado.

Dua orang lulusan sekolah bikinan Galvao di Ternate itu yang memang berasal dari Manado, di kemudian hari setelah lulus, kembali ke kampung halamannya dan memperkenalkan bahasa Melayu-Ternate ke negerinya, lalu kita kenal di kemudian hari sebagai bahasa Melayu-Manado. Jadi sudah jelas, asal bahasa Melayu-Manado adalah Melayu-Ternate.

Mari kita lanjutkan soal bakucuki, bakunae dan bakuruju tadi. Bagaimana hubungan fleksibel pada contoh bakucuki, bakunae, bakuruju itu? Ini masalah ilmiah yang bisa diurai dengan narasi sosiologi kebahasaan. Hanya bahasa Malayu-Ternate dan kemudian Melayu-Manado, Ambon dan di Indonesia Timur pada umumnya yang memiliki ciri-ciri hak asasi yang paripurna tindakan reproduktif itu. Bahasa Indonesia sendiri tidak seperti bahasa Malayu-Ternate dalam mengacu untuk menerangkan tindakan reproduktif yang setara.

foto:ilustrasi/pixabay

Semuanya memang menunjukkan bukti potensial dan laten bahwa lakilaki adalah subjek yang aktif dan perempuan adalah objek yang pasif. Selain bahasa Indonesia, juga bahasa-bahasa asing dari bangsa-bangsa Eropa, menerjemahkan kitab-kitab para nabi Ibrani dengan mendudukkan perempuan sebagai pihak yang pasif selaku objek, dan lakilaki sebagai pihak yang aktif sebagai subjek.

Lantas sekarang di mana letak perbedaan eksplisit untuk memahami dari segi sosiologi kebahasaan atas kosakata bakucuki, bakunae, bakuruju itu? Kosakata “BAKU” dalam bahasa Melayu-Ternate, yang sama juga dengan kata dalam bahasa Malayu-Ambon, Melayu-Manado mengandung pengertian aktif, aktual, konkret, faktual, riil, akan suatu aktivitas, faal, kerja yang dilakukan secara bersama-sama dan timbalbalik dengan fungsi alat-alat tubuh, driya, atma yang padu.

Jadi jelas lah sudah soal gerakan feminisme radikal atau gerakan-gerakan kesetaraan lainnya antara lakilaki dan perempuan, baiknya belajar ke Ternate. Bukan belajar bakucuki, bakunae atau bakuruju, tetapi belajar menghormati kemanusiaan yang sederajat, hak-hak yang sama, atau kesetaraan, keseimbangan, saling menghargai, juga saling menghormati, dan itu bahkan dimulai dari mulanya kata.

Tabea!