Kotabaru, di sini tempat saya menghabiskan masa kecil mengenal pesisir dan jeladri. Dahulu, tempat ini rimbun dengan pantai berpasir hitam legam. Bagi Generasi-X yang bersemi di Ternate, pasti punya ingatan kolektif akan tempat ini di kala itu.

Tempo itu, ada empat atau lima pohon bintangur (calophyllum inophyllum)yang dalam bahasa kitorang disebut capilong. Pohon ini berukuran raksasa dan berbanjar satu saf di tepi pantai laksana jenjang anak tangga yang kian pendek ukurannya ke arah selatan.

Di bawah pepohonan capilong tersebut menjadi loka kapal kayu yang juga berukuran besar menunggu perbaikan atau memang telah tamat masa baktinya. Entah.

Kapal-kapal kayu tersebut yang masih teringat adalah: KM Ilham, KM Bicoli, KM Mulyo, serta sebuah kapal tak lazim — dibuat dari bahan semen — menjadi memori terkuat dalam ingatan. Kesemuanya terparkir dengan anjungan suba Kie Gamalama.

Alkisah, area ini, konon katanya, pada suatu ketika….

Kotabaru adalah sebuah lokasi yang dulunya rawa. Menurut warga setempat, Mohammad Adhari, di tahun 1950-an, pembukaan kampung dimulai dari seorang saudagar bernama Mahmud Kamaludin asal Mareku, Tidore, yang kemudian hijrah pada tahun 1970-an ke Ibukota negara.

Dari beliau inilah, kausa muasal gam ini berkembang hingga kini menjadi Kelurahan Kotabaru di kecamatan Kota Ternate Tengah, dengan mayoritas warganya dari etnis Tidore yang terus tumbuh.

Kini, semua telah berganti rupa: pelabuhan, lautan, pepohonan, rumah-rumah, manusia-manusia dan juga saya yang tengah tenggelam kini dalam imaji-imaji lamun yang terus menggemakan kenangan dalam kata-kata.

Diayun gelombang, dialun lamun, speedboat beringsut perlahan lepas tambang menjauh dari bibir Pelabuhan Speedboat Kotabaru, menyeberang ke Sofifi, Tidore Kepulauan. Kian menjauh, kilas-kilas kenangan semasa bocah terus membuntang, munculkan masa di mana saya karib dengan pantai dan ombak.

Kala itu, di pantai ini, bahkan ombak pun kami ajak bermain, bercanda, bahkan meledeknya, hingga ia datang seolah membawa amarah namun canda. Terngiang syair yang kita nyanyikan saat membangunkannya dari tidur.

Kacil barani, basar panako…! Kacil barani, basar panako…!

Entah itu nyanyian yang teriak atau teriak yang berlagu, terus berulang-ulang. Riuh, sambil melemparkan batu ke arah pantai, mengusiknya hingga bangkit dari tidurnya dan menampakkan diri kian membesar.

Ia datang berlapis-lapis gelombang, gemuruh, dan tak pernah gagal kita mengajaknya menjadi ‘rumbaka’ yang karib. Dan, bergumulah kami di dalamnya dengan riang-gembira.

Photo by pixabay

Sambil memandang kenang, kubisikan seru dalam hati, “Rumbaka, masih ingatkah engkau padaku? Ini kita, si kaboter rambut duribabi, yang dahulu menantangmu.”

Lamunan dirobek deru Jhonson. Kie Gamalama berubah kelabu tanda kami kian menjauh. Tampak kesilaman memudar dan kini kembali kusembunyikan damainya pada lipatan waktu.

Tabea,

Bahasa Ternate: *rumbaka:debur ombak *kie:gunung *gam:kampung *suba:sembah.

Melayu Ternate: *kitorang: kami *kacil: kecil *barani:berani *basar:besar *panako:penakut.

Ghad Hasan, penikmat film dokumenter, fotografi, videografi, dan sedang belajar menulis.